Iffa Malika Ashari

Entah aku sedang menang undian atau di masa lalu aku pernah melakukan kebaikan yang tak terkira,
tetapi Tuhan begitu baik,
dikirimkannya orang-orang luar biasa di sekitarku,
yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

//

2017
Menapaki kehidupan baru sebagai anak perantauan.
Di tahun inilah aku mengenalnya.
Akan ku perkenalkan, namanya Iffa Malika Ashari.
Kalian bisa memanggilnya Malika, Lika, atau kecap bango karena ia adalah kedelai hitam yang dibesarkan seperti anak sendiri.

Tidak begitu ingat bagaimana kesan pertamaku ketika pertama mengenalnya.
Yang aku ingat hanyalah kami menjadi teman sebangku yang kebetulan kosannya berdekatan dan aku tidak perlu khawatir karena kami memiliki frekuensi yang sama kecuali bagian ia yang sangat receh.

Waktu cepat berlalu hingga menuju akhir semester satu dan aku amat bersyukur untuk keberadaannya.

2018
Berpisah satu bulan untuk pulang ke kampung halaman ketika libur semester datang.
Aku kembali dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Barangkali untuk pertama kalinya aku merasa ada di titik terendah.
Menjadi orang pertama yang menangis bersamaku dan aku ingin berterima kasih untuk itu.

Waktu tetap berjalan. Bahu membahu untuk bertahan menuju beberapa bulan yang tersisa hingga tiba pada hari ini.

Aku tidak pandai mengungkapkan perasaan.
Tetapi saat ini, aku sangat ingin berterima kasih.

Terima kasih telah ada sejak awal, terima kasih tetap bertahan hingga sekarang.
Terima kasih tidak membiarkanku menangis sendirian.
Terima kasih pernah menemaniku ketika sakit.
Terima kasih karena terus berbagi tawa dan bahagia.

Aku mungkin bukan teman yang sering menghubungimu, tetapi kamu harus tau aku tidak pernah pergi. Tetap ada meskipun tak menampakkan diri.
Jangan sungkan untuk datang, jangan lelah untuk mengingatkan.

Salam,
Temanmu yang paling kalem katanya.




P.S. mungkin kata-kata di atas terlalu lebay, but I mean it.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf

Aku, Kamu, dan Semua Perempuan di Dunia Ini Cantik