Postingan

22

Tujuh tahun lalu, aku seringkali bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi dewasa. Ingin rasanya cepat besar, menjadi anak kuliahan, bekerja, dan mempunyai penghasilan sendiri, lalu bebas lepas melakukan apapun yang aku suka.  Tujuh tahun kemudian, ternyata bebas lepas tak semudah yang dikira. Sayap-sayap yang ku kira sudah kokoh, nyatanya belum cukup kuat menerjang angin kencang yang bisa datang kapan saja. Tujuh tahun lalu, tangisku masih sekadar tugas datang silih berganti tak henti, berteman-bermusuhan-baikan-bubar, atau belum cukup baik untuk menjadi juara lomba. Tujuh tahun kemudian, tangisku kadang kali tak ku mengerti, segala pikiran ruwet dan ketakutan akan apa yang terjadi di depan menghantui tiap malam. Tujuh tahun lalu, setiap tahun berulang, aku menyambut dengan suka cita. Artinya, waktu ku untuk menjadi besar akan semakin dekat. Tujuh tahun kemudian, setiap tahun berulang, aku masih meyambut dengan suka cita. Dengan lebih banyak doa,dengan lebih banyak harapan dan peng...

Maaf

Kemarin aku kesal, pada setiap tatap dan bisik-bisik yang mampir di telingaku. Kemarin aku kesal, pada setiap ucapan-ucapan jahil akan sesuatu yang mereka sendiri tidak pahami. Lalu aku sadar, aku pun pernah lakukan yang sama. Bahwa ternyata cerminan itu benar adanya. Bahwa barangkali aku terlalu sibuk merasa tersakiti tanpa tahu pernah juga menyakiti. Bahwa terkadang bercandaku dapat melukai. Untuk setiap tutur dan sikap yang telah lalu, Untuk setiap hati yang pernah dilukai, Olehku, Sengaja ataupun tidak, Dengan penuh kerendahan hati, aku meminta maaf.

Kenapa Nulis?

Setiap hal pasti ada alasannya. Bahkan bisa jadi tiap orang punya alasan yang berbeda untuk satu hal yang sama. Begitu juga ketika seseorang menulis sesuatu, mereka pasti punya alasannya masing-masing. Ada yang menulis karena suka, menulis karena ingin berbagi informasi, menulis karena profesi, menulis karena ingin mengasah potensi diri, dan banyak lagi. Bagiku, menulis itu healing . Penyembuhan. Menulis membuatku bisa lebih terbuka pada diriku sendiri. Aku bisa menceritakan apa yang lisanku tak mampu ucapkan. Aku bisa mengeluarkan isi pikiranku yang kadang semrawut tak beraturan. Aku menulis apa saja. Menulis sesuka ku saja. Terkadang terlalu malu untuk menunjukkan pada yang lainnya. Ah, tulisan macam apa ini. Seperti yang saat ini sedang kamu baca. Aku menulis apa saja dan sesuka hatiku saja. Jadi maaf jika menurutmu ini tak layak dibaca.

Halo, Sampit!

Gambar
Nyatanya, manusia memang gampang terjebak di zona nyaman. Terlampau malas memulai kembali dari awal. Kecuali ketika keadaan tak bisa lagi kompromi, mau tak mau menyesuaikan kembali harus dilakoni. Pagi tadi Jogja dingin sekali. Sepertinya tau akan ku tinggal, jadi dia mencoba tak berbaik hati. Tapi dinginnya tidak seberapa dibanding resah ku harus kembali jauh dari rumah. Sekarang jarak yang ditempuh jadi lebih jauh. Kadang kala aku sering bertanya, kenapa waktu serasa begitu cepat? Atau aku saja yang terlampau asyik hingga tak sadar waktu ku menipis demi sedikit. Halo, Sampit! Rumah baruku. Entah berapa tahun akan ku lalui di sini. Izinkan aku belajar, belajar memaknai proses pendewasaan ku di sini, belajar mencari pengalaman di antara yang tak ku kenal, belajar mencari nyaman agar nantinya tak menyesal ketika harus kembali pergi. Semoga semesta menyambutku sepenuh hati. Doa yang sama untukmu, di manapun saat ini. 😊

Memberi dan Menerima

Habis baca cerita orang di timeline line kemudian seperti biasa suka nyasar ke komenan karena biasanya menarik. Dan ya, ada satu komentar yang menarik buatku. "Setiap temenku ulang tahun aku selalu excited buat kasih surprise dan segala macem, tapi giliran aku yang ulangtahun pada anteng-anteng aja" Menurut aku ini relate banget sama banyak orang. Mungkin kalian pernah ada di posisi si penulis komentar ini atau malah di posisi teman-teman nya. Pun persoalannya ngga cuma sebatas kamu ulang tahun aku kasih ucapan dan aku ulang tahun ngga dikasih ucapan. Lebih dari itu, soal memberi dan menerima. Kamu harus tau bahwa ngga selamanya ketika kamu memberi banyak maka akan selalu menerima yang banyak pula. Layaknya petani yang menanam biji begitu banyak tetapi hanya beberapa yang dapat dipanennya. Tapi, itu juga bukan patokan pasti. Akan ada waktunya kamu memberi banyak dan menerima banyak pula, atau malah memberi sedikit tetapi kembali menerima secara berlimpah. Semuanya cu...

Midnight Thought — Perkara Baik

Aku percaya ada banyak orang baik di dunia ini. Hanya saja mereka melakukan kebaikannya dalam diam. Coba lihat di jalanan, ada saja yang membantu seorang lansia untuk menyeberang, ada yang tahu bahwa pejalan kaki punya hak juga di jalanan sehingga trotoar tak digunakan untuk kendaraan bermotor. Atau tengok di tempat-tempat umum seperti stasiun dan bus kota, masih ada yang tahu bahwa mengantri adalah kewajiban, masih ada yang berbaik hati menawarkan tempat duduk pada yang lebih membutuhkan. Tidak perlu jauh-jauh sebenarnya. Coba lihat sekelilingmu, masih ada yang mau mendengarkan ketika yang lain berbicara, ada yang mau menekan egonya agar masih bisa selaras berjalan, dan ada yang tahu bahwa pujian kecil kadang bisa jadi menguatkan. Menjadi baik bukan cuma soal materi atau seberapa banyak yang mengakuimu jadi baik. Karena pada dasarnya manusia selalu punya cela sebaik apapun kelihatannya. Ngga perlu menengok kiri kanan ketika mau berbuat baik, jangan takut dicela ketika kamu me...

Syukur

Bersyukur itu mudah, tapi seringkali dilewatkan. Mumpung sedang ingat, aku mau bersyukur sekarang. Aku bersyukur lahir dan besar di kota istimewa, Menjalani hampir 20 tahunku dengan keramahan luar biasa, Besar dengan kasih dan cinta. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk menjajal tanah yang berbeda, Hidup sebagai anak perantauan, Merasakan susahnya ketika akhir bulan datang. Aku bersyukur dikenalkan pada luka, Pada kenyataan hidup yang kejamnya luar biasa, Tak apa, mungkin syarat untuk menuju jenjang selanjutnya. Aku bersyukur bisa mulai bekerja, Bertemu dengan banyak orang hebat, Menemukan apa yang disebut keluarga kedua. Aku bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa, untuk nikmat-Nya yang tidak terhingga. Sudah bersyukur hari ini?

Ha-lo!

Halo! Rasanya kaya lama banget ngga nulis, padahal ngga juga. Emang dasar manusia suka jadi perasa tiba-tiba tapi ngga peka pas lagi waktunya. Pengin cerita banyak, tapi waktu&tenaga kaya ngga ada. Ini juga dasar manusia, suka ngerasa capek banget padahal kegiatannya gitu-gitu aja. Bukan yang harus angkut beban berat atau pepanasan di luar sana. Iseng cuma mau berkabar aja, siapa tau ada yang nungguin tulisan disini, padahal juga ngga ada. Emang dasar penginnya aku.

Jakarta

Gambar
Aku ingin mendeskripsikan Jakarta dalam beberapa kata, Panas, Macet, Ramai, Sesak, Mimpi, dan Rindu. Untuk   mereka yang ingin mengalahkan sang mentari, Memenuhi koridor busway pukul 6 pagi, Sahut-sahutan klakson adalah iringan senyap dalam ramai. Untuk mereka yang kembali saat gelapnya hari, Berdesakan demi cepat mengistirahatkan diri, Sahut-sahutan klakson adalah pengantar ke alam mimpi. Mereka adalah aku. Aku adalah mereka. Mungkin juga kamu. Tentang menahan rindu  untuk merajut asa. Penghidupan bagi jutaan manusia.

Iffa Malika Ashari

Gambar
Entah aku sedang menang undian atau di masa lalu aku pernah melakukan kebaikan yang tak terkira, tetapi Tuhan begitu baik, dikirimkannya orang-orang luar biasa di sekitarku, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. // 2017 Menapaki kehidupan baru sebagai anak perantauan. Di tahun inilah aku mengenalnya. Akan ku perkenalkan, namanya Iffa Malika Ashari. Kalian bisa memanggilnya Malika, Lika, atau kecap bango karena ia adalah kedelai hitam yang dibesarkan seperti anak sendiri. Tidak begitu ingat bagaimana kesan pertamaku ketika pertama mengenalnya. Yang aku ingat hanyalah kami menjadi teman sebangku yang kebetulan kosannya berdekatan dan aku tidak perlu khawatir karena kami memiliki frekuensi yang sama kecuali bagian ia yang sangat receh. Waktu cepat berlalu hingga menuju akhir semester satu dan aku amat bersyukur untuk keberadaannya. 2018 Berpisah satu bulan untuk pulang ke kampung halaman ketika libur semester datang. Aku kembali dalam keadaan yang tidak baik-bai...