Cepat Pulang

Pintu tua itu semakin terlihat kusam. Badai di luar sana masih terdengar mengerikan.
Gadis itu semakin meringkuk di balik selimut tebalnya. Ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu.....

"Semakin lama uang kita tak akan cukup untuk membayar sewa rumah ini. Aku akan pergi mencari uang untuk biaya membeli rumah," ujar lelaki berjaket coklat itu.
Si gadis hanya memperhatikannya dalam diam. "Kau baik baik disini, aku tidak akan lama," si lelaki itu mencium puncak kepala si  gadis.
"Tapi diluar sana sedang turun badai, sebaiknya kau pergi besok saja."
Gadis itu masih terus berusaha mengulur waktu.
Jujur ia takut, takut dengan badai. Karenanya ia lebih suka berada di dalam rumah bersama orang-orang terdekatnya. Dan ia akan merasa tenang.

Tetapi si lelaki itu tak menggubris. Kembali ia masukkan barang-barangnya ke dalam koper kecil yang sudah usang itu.
"Aku akan baik-baik saja, tunggu beberapa hari dan aku akan kembali membawa uang," lelaki itu masih terus meyakinkan si gadis.

Si gadis menunduk lesu. Diantarnya lelaki itu hingga pintu depan.
Ia masih terus menunggu hingga sosok lelaki itu semakin mengecil dan hilang.
Angin berembus semakin kencang. Segera ia tutup pintu coklat itu.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Badai silih berganti datang.
Tetapi lelaki itu masih tak nampak. Ia tak menepati janjinya untuk kembali. Dan si gadis masih setia menunggu di balik pintu coklat itu.

"Cepat pulang, kak" bisiknya lirih sambil merapatkan kembali selimutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf

Aku, Kamu, dan Semua Perempuan di Dunia Ini Cantik

Iffa Malika Ashari