Ayah.
Ayah,
ada yang patah dariku.
Ketika hari itu, dirimu menjadi satu dari ketakutan yang mewujud nyata.
Hatiku patah, ketika air mata jatuh untuk cinta pertamaku.
Ayah,
apa kau tau siapa cinta pertamaku?
Apakah kau akan datang dan memarahinya karena membuat gadis kecilmu menangis?
Tapi, Ayah....
Kau tidak akan bisa marah pada dirimu sendiri.
Kenapa harus dirimu? Apakah salah jika aku merengek pada Tuhan untuk memutar waktu? Apakah aku terlampau kekanakan karena tidak ingin menghadapi kenyataan?
Aku takut dan juga rindu. Takutku begitu besar hingga tak ingin bertemu, tapi rinduku terlampau naif hingga tak peduli bagaimana sakit itu saat bertemu.
Ayah, aku harus bagaimana?
ada yang patah dariku.
Ketika hari itu, dirimu menjadi satu dari ketakutan yang mewujud nyata.
Hatiku patah, ketika air mata jatuh untuk cinta pertamaku.
Ayah,
apa kau tau siapa cinta pertamaku?
Apakah kau akan datang dan memarahinya karena membuat gadis kecilmu menangis?
Tapi, Ayah....
Kau tidak akan bisa marah pada dirimu sendiri.
Kenapa harus dirimu? Apakah salah jika aku merengek pada Tuhan untuk memutar waktu? Apakah aku terlampau kekanakan karena tidak ingin menghadapi kenyataan?
Aku takut dan juga rindu. Takutku begitu besar hingga tak ingin bertemu, tapi rinduku terlampau naif hingga tak peduli bagaimana sakit itu saat bertemu.
Ayah, aku harus bagaimana?
Komentar
Posting Komentar