Postingan

Memberi dan Menerima

Habis baca cerita orang di timeline line kemudian seperti biasa suka nyasar ke komenan karena biasanya menarik. Dan ya, ada satu komentar yang menarik buatku. "Setiap temenku ulang tahun aku selalu excited buat kasih surprise dan segala macem, tapi giliran aku yang ulangtahun pada anteng-anteng aja" Menurut aku ini relate banget sama banyak orang. Mungkin kalian pernah ada di posisi si penulis komentar ini atau malah di posisi teman-teman nya. Pun persoalannya ngga cuma sebatas kamu ulang tahun aku kasih ucapan dan aku ulang tahun ngga dikasih ucapan. Lebih dari itu, soal memberi dan menerima. Kamu harus tau bahwa ngga selamanya ketika kamu memberi banyak maka akan selalu menerima yang banyak pula. Layaknya petani yang menanam biji begitu banyak tetapi hanya beberapa yang dapat dipanennya. Tapi, itu juga bukan patokan pasti. Akan ada waktunya kamu memberi banyak dan menerima banyak pula, atau malah memberi sedikit tetapi kembali menerima secara berlimpah. Semuanya cu...

Midnight Thought — Perkara Baik

Aku percaya ada banyak orang baik di dunia ini. Hanya saja mereka melakukan kebaikannya dalam diam. Coba lihat di jalanan, ada saja yang membantu seorang lansia untuk menyeberang, ada yang tahu bahwa pejalan kaki punya hak juga di jalanan sehingga trotoar tak digunakan untuk kendaraan bermotor. Atau tengok di tempat-tempat umum seperti stasiun dan bus kota, masih ada yang tahu bahwa mengantri adalah kewajiban, masih ada yang berbaik hati menawarkan tempat duduk pada yang lebih membutuhkan. Tidak perlu jauh-jauh sebenarnya. Coba lihat sekelilingmu, masih ada yang mau mendengarkan ketika yang lain berbicara, ada yang mau menekan egonya agar masih bisa selaras berjalan, dan ada yang tahu bahwa pujian kecil kadang bisa jadi menguatkan. Menjadi baik bukan cuma soal materi atau seberapa banyak yang mengakuimu jadi baik. Karena pada dasarnya manusia selalu punya cela sebaik apapun kelihatannya. Ngga perlu menengok kiri kanan ketika mau berbuat baik, jangan takut dicela ketika kamu me...

Syukur

Bersyukur itu mudah, tapi seringkali dilewatkan. Mumpung sedang ingat, aku mau bersyukur sekarang. Aku bersyukur lahir dan besar di kota istimewa, Menjalani hampir 20 tahunku dengan keramahan luar biasa, Besar dengan kasih dan cinta. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk menjajal tanah yang berbeda, Hidup sebagai anak perantauan, Merasakan susahnya ketika akhir bulan datang. Aku bersyukur dikenalkan pada luka, Pada kenyataan hidup yang kejamnya luar biasa, Tak apa, mungkin syarat untuk menuju jenjang selanjutnya. Aku bersyukur bisa mulai bekerja, Bertemu dengan banyak orang hebat, Menemukan apa yang disebut keluarga kedua. Aku bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa, untuk nikmat-Nya yang tidak terhingga. Sudah bersyukur hari ini?

Ha-lo!

Halo! Rasanya kaya lama banget ngga nulis, padahal ngga juga. Emang dasar manusia suka jadi perasa tiba-tiba tapi ngga peka pas lagi waktunya. Pengin cerita banyak, tapi waktu&tenaga kaya ngga ada. Ini juga dasar manusia, suka ngerasa capek banget padahal kegiatannya gitu-gitu aja. Bukan yang harus angkut beban berat atau pepanasan di luar sana. Iseng cuma mau berkabar aja, siapa tau ada yang nungguin tulisan disini, padahal juga ngga ada. Emang dasar penginnya aku.

Jakarta

Gambar
Aku ingin mendeskripsikan Jakarta dalam beberapa kata, Panas, Macet, Ramai, Sesak, Mimpi, dan Rindu. Untuk   mereka yang ingin mengalahkan sang mentari, Memenuhi koridor busway pukul 6 pagi, Sahut-sahutan klakson adalah iringan senyap dalam ramai. Untuk mereka yang kembali saat gelapnya hari, Berdesakan demi cepat mengistirahatkan diri, Sahut-sahutan klakson adalah pengantar ke alam mimpi. Mereka adalah aku. Aku adalah mereka. Mungkin juga kamu. Tentang menahan rindu  untuk merajut asa. Penghidupan bagi jutaan manusia.

Iffa Malika Ashari

Gambar
Entah aku sedang menang undian atau di masa lalu aku pernah melakukan kebaikan yang tak terkira, tetapi Tuhan begitu baik, dikirimkannya orang-orang luar biasa di sekitarku, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. // 2017 Menapaki kehidupan baru sebagai anak perantauan. Di tahun inilah aku mengenalnya. Akan ku perkenalkan, namanya Iffa Malika Ashari. Kalian bisa memanggilnya Malika, Lika, atau kecap bango karena ia adalah kedelai hitam yang dibesarkan seperti anak sendiri. Tidak begitu ingat bagaimana kesan pertamaku ketika pertama mengenalnya. Yang aku ingat hanyalah kami menjadi teman sebangku yang kebetulan kosannya berdekatan dan aku tidak perlu khawatir karena kami memiliki frekuensi yang sama kecuali bagian ia yang sangat receh. Waktu cepat berlalu hingga menuju akhir semester satu dan aku amat bersyukur untuk keberadaannya. 2018 Berpisah satu bulan untuk pulang ke kampung halaman ketika libur semester datang. Aku kembali dalam keadaan yang tidak baik-bai...

Aku, Kamu, dan Semua Perempuan di Dunia Ini Cantik

Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjadi 'si cantik'? Berdiam diri pun selalu ada yang melirik. Aku sering bertanya, bahagiakah mereka sebagai 'si cantik'? Karena aku sering kali melihat mereka diperlakukan lebih baik. Aku penasaran apa jadinya jika di dunia ini semua perempuan berwajah cantik. Mungkin cantik tak lagi menarik. Namun semuanya memang cantik. Tergantung dari mana kamu menilik. // Aku memiliki seorang teman yang barangkali akan langsung membuatmu berdecak kagum ketika melihatnya. Wajahnya putih rupawan dan tubuhnya tinggi semampai. Tetapi nyatanya ia tak selalu senang. Masih merasa kurang dan tidak percaya diri dengan apa adanya ia. Lalu ada temanku yang barangkali akan kau kategorikan biasa-biasa saja, tetapi pemikirannya luar biasa. Memiliki segudang talenta walau masih sering merasa kurang dengan bentuk rupanya. Dan ada aku yang sering merasa tak istimewa. Aku yang sibuk mencari-cari cara agar bisa menjadi 'si cantik'...

Hanya Aku

Sepatah Dua patah Ada yang tak bisa diucapkan Pun diungkapkan Meski begitu ingin Sepatah Dua patah Ingin dimengerti Tanpa memberi tahu Terlampau egois Tapi tak mampu Sepatah Dua patah Mereka tak tahu Hanya aku

Ayah.

Ayah, ada yang patah dariku. Ketika hari itu, dirimu menjadi satu dari ketakutan yang mewujud nyata. Hatiku patah, ketika air mata jatuh untuk cinta pertamaku. Ayah, apa kau tau siapa cinta pertamaku? Apakah kau akan datang dan memarahinya karena membuat gadis kecilmu menangis? Tapi, Ayah.... Kau tidak akan bisa marah pada dirimu sendiri. Kenapa harus dirimu? Apakah salah jika aku merengek pada Tuhan untuk memutar waktu? Apakah aku terlampau kekanakan karena tidak ingin menghadapi kenyataan? Aku takut dan juga rindu. Takutku begitu besar hingga tak ingin bertemu, tapi rinduku terlampau naif hingga tak peduli bagaimana sakit itu saat bertemu. Ayah, aku harus bagaimana?

Surat Untuk Aku di Masa Depan

Selamat mengulang tahun, aku. Tidak banyak yang kuharapkan, hanya sebaris doa agar kamu senantiasa berbahagia di penghujung remajamu dan seterusnya ketika tahun-tahun terus berulang. Di usia yang beranjak dewasa ini, aku ingin nanti ketika aku kembali membaca ini aku sudah benar-benar dewasa pada tempatnya. Dewasa secara emosi, pikiran, bersikap, dan segala hal yang melekat pada diriku. Jangan pernah menyerah dengan jalan yang ada di depan. Jangan terus-menerus menengok ke arah belakang karena selamanya kenangan hanya untuk dikenang. Jangan menyesali apa yang telah kamu pilih, cukup perjuangkan dan pertanggungjawabkan. Ketika kamu merasa jatuh dan begitu sedih, Tuhan sedang memanggilmu untuk lebih dekat pada-Nya. Ketika kamu merasa seluruh dunia bersikap tak adil padamu, akan selalu ada tempat kembali yang kau sebut rumah. Lalu ketika bahagia sedang memelukmu erat, bersyukur adalah cara yang tepat untuk merayakannya. Untuk aku di masa depan, seperti apapun kamu nanti, saat ini ...